Bahaya Rokok

Cina Bisa Belajar dari Hong Kong Cara Berhenti Merokok

Foto ilustrasi. Dok: StockXpert

TEMPO Interaktif, Hong Kong - Hampir satu dari tiga perokok di seluruh dunia ada di Cina. Di sana, rokok umumnya diberikan sebagai hadiah. Hal itu telah lama dilakukan sebagai bagian dari budaya orang Cina. Akibatnya, sebagian besar orang percaya bahwa menghilangkan kebiasaan merokok mustahil dilakukan di sana. Tapi laporan terbaru menunjukkan bahwa, kunci untuk membuat warga Cina berhenti merokok, tidak jauh dari negara itu.

Hong Kong telah berhasil berjuang menekan jumlah perokok selama dua dekade. Ini terlihat dari tingkat penurunan jumlah perokok dari 23 persen pada tahun 1982 ketika kampanye dimulai menjadi 12 persen pada tahun 2008. Jumlah ini merupakan jumlah terendah di dunia.

Bekas koloni Inggris yang sekarang di bawah pemerintahan Cina ini sangat keras mengenai aturan ini dengan mengenakan pajak rokok hingga 300 persen. Larangan merokok berlaku di dalam ruangan dan diumumkan melalui sekolah-sekolah dan ruang publik. Hal ini membuktikan bahwa merokok dan kebudayaan Cina tidak harus hidup bersama.

"Kita semua belajar dari pengalaman bersama. Program tembakau Amerika belajar dari Australia, Kanada, dan lain-lain," kata Jeffrey Koplan, dari Emory Global Health Institute di Atlanta, yang menulis sebuah komentar yang diterbitkan secara online pada Jumat (26/3) di jurnal medis The Lancet. "Hong Kong sangat relevan dengan kondisi Cina, dan pelajaran besar bagi kita semua untuk belajar bahwa program promosi kesehatan yang efektif adalah multidimensi."

Sekitar 30 persen dari perokok dunia tinggal di Cina, yang jumlahnya kira-kira sama dengan seluruh penduduk Amerika. Dalam 15 tahun ke depan akan bisa membunuh sekitar dua juta warga Cina setiap tahun, kata laporan itu. Negara ini adalah rumah terbesar kedua di dunia bagi penanam tembakau dan produsen rokok.

Cina telah mengambil beberapa langkah untuk mengurangi merokok, seperti TV dan radio melarang iklan rokok dan menambahkan peringatan kesehatan pada kemasan rokok. Aturan itu berhasil melarang merokok di dalam maupun di luar ruangan tempat di Olimpiade 2008.

Namun pemerintah sekarang perlu meningkatkan pajak dan berhadapan dengan monopoli tembakau milik negara, kata Dr Judith Mackay, penasehat kebijakan senior Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) yang vokal memimpin kampanye anti-merokok di seluruh Asia, bekerja dengan Cina sejak 1980-an.

Menurutnya Cina tidak memungut pajak, tapi itu diserap oleh perusahaan-perusahaan dan perokok tidak pernah dipukul dengan kenaikan harga. "Jika Anda bisa mendapatkan anak-anak usia 19 tahun, mereka tidak mulai merokok tidak itu."

Harga rokok buatan lokal sangat bervariasi di Cina, tetapi satu bungkus dapat dibeli sedikitnya seharga $ 1,5 atau sekitar Rp 14 ribu di Beijing. Sebagai perbandingan, di Hong Kong, biaya paket impor lebih dari $ 5 atau sekitar Rp 45 ribu.

Di Hong Kong, rokok telah dikenakan pajak tinggi sebesar 300 persen sejak tahun 1983. Ketika tingkat pajak tidak berubah dari 2001 hingga 2008, terlihat peningkatan penggunaan tembakau, termasuk peningkatan jumlah rata-rata rokok yang diisap oleh orang-orang muda dari sembilan per hari di 2005 menjadi 11 batang per hari tiga tahun kemudian. Tahun lalu, pemerintah kembali menaikkan pajak sebesar 50 persen untuk menekan kenaikan jumlah perokok itu.

Mackay, yang tinggal di Hong Kong selama 40 tahun dan bukan bagian dari komentar Lancet, mengatakan WHO baru-baru ini menantang wilayah berpenduduk tujuh juta untuk menjadi tempat pertama yang akan mendorong tingkat perokok di bawah 10 persen.

Dia bilang itu adalah target yang diharapkan dapat dipenuhi, untuk menunjukkan pada Cina bahwa itu hal yang mungkin terjadi. Pemimpin Hong Kong bersama kepala WHO Dr Margaret Chan, mantan direktur kesehatan menyatakan hal itu merupakan kunci untuk membantu Cina menyadari betapa merokok akan merugikan negara dalam jangka panjang.

"Beberapa orang di Cina selalu berpikir bahwa Cina adalah kasus khusus, dan sebenarnya saya tidak setuju sama sekali," katanya. "Saya telah bekerja sama dengan raja-raja dan komunis di wilayah ini dan produk yang sama, efek kesehatan yang sama, kendala sama, apa yang harus dilakukan adalah sama."

Awal pekan ini, sebuah studi nasional mengungkapkan bahwa Cina sekarang rumah bagi sebagian besar orang menderita diabetes. Merokok adalah faktor risiko utama untuk penyakit kronis seperti penyakit jantung, penyakit pembunuh utama di negara ini. Penyakit yang berhubungan dengan tembakau menyebabkan sekitar sejuta kematian setiap tahun.

"Indsutri raksasa tembakau dan rokok dan dampak ekonomi adalah tantangan serius bagi pengawasan tembakau," kata Koplan. "Tapi tidak banyak berbeda dari industri tembakau di Amerika, kesehatan yang baik akhirnya mengalahkan keuntungan komersial."
0 Responses

Poskan Komentar

abcs